Artikel – Penyakit menular menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Penyebab munculnya penyakit baru (new emerging disease) dan munculnya kembali penyakit menular yang lama (re-emerging disease) membuat Indonesia menanggung beban berlebih dalam penanggulangan penyakit (triple burden disease) (Kemenkes, 2013).
Menurut WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), penyakit yang ditularkan melalui vektor, termasuk penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, mencakup 17% penyakit menular dan menyebabkan lebih dari satu juta korban jiwa setiap tahunnya.
“Kementerian Kesehatan mencatatkan lebih dari 300.000 kasus malaria terjadi di Indonesia pada tahun 2021, angka ini naik 19,9 % jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yaitu lebih dari 250.000. Kasus penyakit ini menjadi masalah kesehatan di Indonesia karena menurunkan produktivitas dan bahkan menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu pada bayi, balita, dan ibu hamil…” Kata dr. Adityo Susilo, Sp.PD-KPTI., dilansir dari akun YouTube Rumah Sakit Universitas Indonesia, Rabu (08/11/2023).
Secara global terdapat korelasi yang signifikan antara penggunaan lahan dan penularan malaria. Lingkungan lahan basah erat hubungannya dengan sanitasi lingkungan. Penyakit malaria dapat terjadi di lingkungan lahan basah.
Nyamuk mempunyai hubungan erat dengan lahan basah karena air merupakan kebutuhan penting dalam tahap larva pada nyamuk. Di dalam air, telur menetas menjadi larva yang melalui empat tahap instar. Dari perspektif lahan basah, penting untuk mengidentifikasi habitat tahap belum dewasa (telur dan larva) karena habitat ini biasanya merupakan lahan basah dan fokus dari pengelolaan larva, dan karenanya lahan basah.
Pengertian
Lahan basah (wetland) merupakan wilayah di permukaan bumi berupa daratan yakni tanah yang di genangi air baik permanen (tetap tergenang air) maupun musiman.
Lahan basah ini memiliki kandungan air yang tinggi dan termasuk lahan subur. Karakteristik lahan basah memang akan senantiasa tergenang air.
Lahan basah dapat ditemukan di berbagai kawasan termasuk di daerah Sumatera Selatan. Contoh-contoh lahan basah seperti kawasan bakau, lahan gambut, rawa-rawa, sungai, danau, dan sawah.
Lingkungan lahan basah erat kaitannya dengan sanitasi lingkungan. Salah satunya penyakit malaria, yang dapat terjadi di lingkungan lahan basah.
Penyakit malaria merupakan infeksi parasit pada sel merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang di tularkan ke manusia melalui air liur nyamuk. Orang yang berisiko terinfeksi malaria adalah anak-anak, balita, wanita hamil serta penduduk non imun yang mengunjungi daerah endemis malaria serta berpenduduk di daerah lahan basah Permasalahan Malaria
Penyakit malaria masih menjadi permasalahan yang ada di Indonesia karena merupakan Negara dengan wilayah tropis dan mempunyai beberapa wilayah endemis malaria seperti di Papua, Papua Barat, Maluku, dan NTT. Angka kejadian malaria dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti agen, host, dan lingkungan. Dari faktor agen meliputi beberapa vektor dari malaria yang kemungkinan meningkatkan transmisi parasit malaria pada manusia, sehingga meningkatnya kejadian malaria. Untuk faktor lingkungan dipengaruhi oleh tempat perindukan vektor (TPV) yang banyak mempengaruhi kuatnya perkembangbiakan vektor. Terjadinya malaria sangat erat kaitannya dengan lingkungan dan kondisi iklim pada suatu wilayah, kemudian tingkat keparahan dipengaruhi oleh aktivitas manusia seperti pertanian. Faktor iklim cuaca seperti curah hujan yang tinggi dapat menjadi TPV yang baik, genangan dari hujan juga
dapat menjadi tempat terbentuknya TPV malaria dan segera berkembang biak. Vektor malaria berkembang-biak terutama pada genangan air yang tidak mengalir.
Sebab Akibat Malaria
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang dibawa oleh nyamuk Anopheles betina. Ada beberapa jenis Plasmodium yang dapat menginfeksi manusia, yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan Plasmodium malariae. Parasit ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk dan berkembang biak di hati sebelum menyerang sel darah merah. Gejala malaria antara lain demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Dalam kasus yang parah, malaria dapat menyebabkan komplikasi seperti gagal hati, penurunan tekanan darah secara tiba-tiba, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), gagal ginjal, dan dehidrasi. Tingkat keparahan penyakit tergantung pada jenis parasit Plasmodium penyebab infeksi .
Pencegahan Malaria
Pengendalian dan pencegahan malaria memerlukan pemahaman dan kuantifikasi yang lebih baik terhadap peran relatif faktor lingkungan (termasuk tutupan/penggunaan lahan, fitur lanskap, faktor meteorologi dan iklim) dalam penyebaran epidemi; peran relatif faktor-faktor sosial dan ekonomi dalam proses-proses ini; dan kerentanan masyarakat terhadap penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Tampaknya penting untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan kepadatan vektor dan, oleh karena itu, potensi kesenjangan dalam paparan penularan patogen. Hal ini dapat membantu mencegah munculnya dan munculnya kembali penyakit-penyakit lain, serta menjadi dasar pengendalian yang efektif.
Teknik penginderaan jauh telah diterapkan pada epidemiologi selama beberapa dekade. Di wilayah Amazon, teknik penginderaan jauh telah digunakan untuk mengidentifikasi habitat nyamuk, menyelidiki epidemiologi malaria atau membantu pengendalian malaria (dari pemetaan habitat larva pada skala lokal menggunakan survei udara untuk menularkan risiko penularan pada Skala regional/kontinental menggunakan data satelit.
Untuk menghindarinya jangan melakukan aktivitas di dekat perindukan nyamuk malaria (sumber air minum, danau, sawah, sungai) pada malam hari di daerah endemis malaria. Cara pencegahan dengan menggunakan pakaian tertutup (lengan panjang, celana panjang, sarung), memasang kawat kasa, dan tidur berkelambu berinsektisida.
Malaria disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles, karena itu pencegahannya adalah dengan mengubah pola perilaku manusia agar nyamuk tidak muncul. Berikut beberapa tips untuk mencegah penyebaran penyakit malaria:
● Gunakan kelambu ketika tidur
● Memakai pakaian serba panjang seperti celana dan lengan panjang selama beraktivitas
● Hindari meletakkan pakaian basah di dalam rumah karena dapat menjadi tempat
persembunyian nyamuk
● Lakukan langkah 3M (Menguras penampungan udara, Mengubur barang bekas, dan Mendaur ulang barang bekas)
● Gunakan lotion anti nyamuk yang mengandung DEET ( diethyltoluamide )
● Pasang obat nyamuk dan rutin menyemprot obat nyamuk terutama di pagi dan sore hari
● Rutin melakukan fogging massal di daerah dengan tingkat malaria yang tinggi setiap harinya.
Kesimpulan
Penyakit malaria masih menjadi permasalahan yang ada di Indonesia karena merupakan Negara dengan wilayah tropis dan mempunyai beberapa wilayah endemis malaria, seperti di Papua, Papua Barat, Maluku, dan NTT. Malaria juga dapat terjadi di pemukiman lahan basah, seperti halnya di daerah Ogan Ilir dan sekitarnya karena daerah tersebut memiliki banyak perairan yang mana air menjadi kebutuhan penting dalam tahap larva pada nyamuk.
Malaria ini disebabkan oleh parasit Plasmodium yang dibawa oleh nyamuk Anopheles betina. Dengan gejala yang sering dialami oleh penderita, seperti demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Dengan demikian, malaria dapat dicegah dengan melakukan perubahan pola perilaku manusia agar nyamuk tidak muncul, seperti menggunakan kelambu saat tidur, melakukan langkah 3M (mengubur, menguras, dan mendaur ulang), serta menggunakan lotion anti nyamuk yang mengandung DEET (diethyltoluamide) dan rutin menyemprotkan obat nyamuk terutama di pagi dan sore hari.
1. Nada Nadiva (10011182126026)
2. Hafizah Putri Mutiara (10011282126124)
3. Siti Nadira Arumaisha(10011282126125)
4. Amanda Nashwa Syafirafansa (10011282126126)
5. Muhammad Makki Al Hasyimi (10011382126200)
6. Poppy Dwi Puspita (10011382126201)






