PALEMBANG|KabarRI.com, – Momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda mengingat Dasar Pemuda dan Menuju Hari Pahlawan mengilhami semangat perjuangan menjadi ruang refleksi sekaligus silaturahmi pemuda Rumpun Cipayung Plus di Sumatera Selatan. Melalui kegiatan *Deklarasi dan Diskusi Publik Kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 2027–2029*, Ulil Mustofa, menyampaikan gagasan transformasi kepemimpinan kader dengan mengusung tema *“Akselerasi Pemuda untuk Kedaulatan Rakyat Bersama Rumpun Cipayung Plus”.*
“Kearifan Lokal untuk Nasional”tersebut dilaksanakan pada Jumat, 6 November 2026, bertempat di Hotel Swarna Dwipa, Palembang, Sumatera Selatan.
Dalam momentum deklarasi tersebut, Ulil Mustofa memperkenalkan gagasan *HMI Excellent Transformasi*, dengan membawa semangat *Bersama Rakyat untuk Ummat.*
Menurutnya, deklarasi ini bukan sekadar momentum memperkenalkan diri sebagai kandidat Ketua Umum PB HMI, melainkan bagian dari ikhtiar membangun kesadaran kolektif bahwa pemuda daerah memiliki kapasitas, integritas, dan kesempatan yang sama untuk mengambil peran dalam kepemimpinan nasional.
Yongki sekretaris Umum HMI Cabang Palembang memberikan sambutan bahwa bagaimana memberikan contoh terbaik pada setiap generasi agar terus tumbuh lebih baik dan terus berani berkiprah
Dalam penyampaiannya, Ulil menegaskan bahwa tantangan terbesar generasi muda bukan semata-mata persaingan antarsesama, melainkan waktu yang terus berjalan dan masa muda yang tidak berlangsung selamanya.
Sigit Muhaimin eks Ketua Umum HMI Cabang Palembang periode 2019-2020 yang juga sebagai Mentor Kandidat menyampaikan sejarah bahwa ada tonggak sejarah HMI cabang Palembang sebagai salah satu cabang tertua dan pendiri HMI cabang Palembang Alm. Ayahanda Rusdi Cosim juga sebagai pahlawan maka kader HMI Cabang Palembang harus mewarnai dan memiliki daya saing positif oleh karenanya Ulil Mustofa sudah cukup mumpuni dari proses perkaderan di HMI dan Jaringan yang di bangun Cukup kuat.
Dalam forum tersebut, Ulil juga mengingatkan “Musuh terberat pemuda adalah waktu. Masa muda memiliki batas, sementara kesempatan untuk berbuat dan memberikan pengabdian tidak selalu datang dua kali. Karena itu, jangan habiskan energi kita untuk mempertahankan ego, mempertajam perbedaan, apalagi menjatuhkan sesama. Maksimalkan setiap proses, tingkatkan kapasitas, dan berikan kontribusi terbaik bagi umat dan bangsa,”. pentingnya menjaga soliditas rumpun organisasi Cipayung Plus. Ia menilai bahwa perbedaan identitas, tradisi, pilihan, maupun strategi gerakan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang seharusnya menjadi kekuatan intelektual, bukan sumber perpecahan.
Ia mengingatkan agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam politik adu domba atau *divide et impera* yang dapat melemahkan rumpun Cipayung plus .
“Kita boleh berbeda bendera, berbeda organisasi, berbeda metode perjuangan, tetapi jangan sampai kehilangan persaudaraan. Cipayung Plus bukan tempat untuk saling meniadakan, melainkan ruang untuk saling menguatkan. Jangan biarkan pemuda diadu domba oleh kepentingan sesaat, sementara persoalan rakyat dan masa depan bangsa masih membutuhkan keberanian kita,” ungkapnya.
Ulil juga menyampaikan penghormatan kepada para senior, alumni, dan pendahulu organisasi, baik di lingkungan HMI maupun organisasi-organisasi Cipayung Plus. Menurutnya, sejarah perjuangan yang telah dibangun para pendahulu merupakan fondasi penting yang harus dirawat dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Baginya, menghormati senior bukan berarti menghentikan regenerasi. Justru penghormatan tertinggi terhadap sejarah organisasi adalah melanjutkan perjuangan melalui gagasan, inovasi, dan kepemimpinan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Jangan Jadikan Kader sebagai Anak Tiri Organisasi semuanya harus mendapatkan perhatian kesempatan yang sama dan mendorong untuk memiliki masa depan yang cerah
Salah satu pesan penting yang disampaikan Ulil adalah perlunya membangun budaya organisasi yang inklusif, adil, dan memberikan kesempatan setara kepada seluruh kader.
Ia menyoroti bahwa kader yang berasal dari komisariat kecil, cabang daerah, maupun wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan harus mendapatkan ruang yang sama untuk berkembang dan berproses.
“Jangan jadikan kader sebagai anak tiri organisasi. Jangan sampai masa depan seorang kader dibatasi hanya karena berasal dari daerah, tidak memiliki jaringan, atau tidak berada dalam lingkaran tertentu. Setiap kader memiliki hak untuk belajar, bertumbuh, mendapatkan kesempatan, dan menatap masa depan. Organisasi kader harus menjadi rumah besar perjuangan, bukan ruang eksklusif bagi kelompok tertentu,” ujarnya.
Ia menawarkan penguatan budaya meritokrasi, yakni memberikan kesempatan berdasarkan kompetensi, integritas, kapasitas, dan pengabdian.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fondasi HMI Excellent Transformasi yang menitikberatkan pada tiga orientasi utama, yaitu *Magnificent* dalam keunggulan karakter dan gagasan, *Valuable* dalam menciptakan nilai serta kebermanfaatan, dan *Professional* dalam membangun tata kelola organisasi yang profesional.
Lebih jauh, Ulil mengajak pemuda Sumatera Selatan untuk tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi tampil sebagai pelaku perubahan dalam menghadapi bonus demografi dan tantangan Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, akselerasi pemuda harus dibangun melalui tiga kekuatan utama, yakni kompetensi, karakter, dan kontribusi.
Pemuda harus memiliki penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, literasi digital, ekonomi, hukum, serta kemampuan profesional. Di saat yang sama, integritas, akhlak, kedisiplinan, dan keberanian moral harus menjadi karakter utama gerakan pemuda.
Sementara itu, kontribusi harus diwujudkan melalui kerja nyata, pengawalan kebijakan publik, penguatan ekonomi kerakyatan, serta keberpihakan terhadap persoalan masyarakat.
Mengutip QS. Al-‘Ashr ayat 1–3, Ulil mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian apabila tidak mengisi waktunya dengan keimanan, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa gerakan pemuda harus memiliki orientasi yang jelas: iman sebagai landasan, ilmu sebagai kekuatan, dan amal sebagai pembuktian.
Melalui deklarasi ini, Ulil Mustofa membawa semangat agar kader daerah mendapatkan kedaulatan dan kesempatan yang lebih luas dalam proses kepemimpinan nasional.
Ia berharap PB HMI ke depan tidak hanya menjadi pusat administrasi organisasi, tetapi juga menjadi pusat pengembangan kualitas kader, keilmuan, inovasi, digitalisasi, transparansi tata kelola, kemandirian organisasi, dan pengabdian masyarakat.
Baginya, kebesaran HMI tidak semata-mata diukur dari kuatnya pusat organisasi, tetapi juga dari kualitas kader dan kekuatan cabang-cabang di seluruh Indonesia.
Semangat tersebut sejalan dengan tujuan HMI untuk membentuk insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.
Menutup penyampaiannya, Ulil mengajak seluruh elemen pemuda untuk tidak takut berproses, tidak meremehkan perjuangan orang lain, serta tidak membatasi kesempatan kader berdasarkan latar belakang dan asal daerah.
“Sejarah tidak akan mencatat berapa lama kita berdebat, tetapi sejarah akan mencatat apa yang telah kita perjuangkan. Kita boleh berbeda jalan, tetapi jangan kehilangan arah perjuangan. Kita boleh berbeda organisasi, tetapi jangan kehilangan persaudaraan,”* tutupnya.
Ia pun menyampaikan pesan perjuangan yang menjadi penegasan arah deklarasinya:
“KADER DAERAH BUKAN KADER KELAS DUA. SUMATERA SELATAN MAMPU MELAHIRKAN GAGASAN DAN KEPEMIMPINAN NASIONAL.”
Dengan semangat HMI Excellent Transformasi: Dari Pelosok Daerah untuk Kedaulatan Kader Umat dan Kader Bangsa, deklarasi ini diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat solidaritas pemuda, memperluas ruang kaderisasi, dan membangun masa depan organisasi yang lebih inklusif, progresif, serta berorientasi pada pengabdian kepada umat dan bangsa.






