Palembang|KabarRI.com, – PW Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Sumatera Selatan terkait pembentukan Satuan Khusus Mitigasi Ekologi Bioregion Bukit Barisan sebagai langkah visioner, progresif, dan sangat relevan dengan kondisi ekologis Pulau Sumatera hari ini. Gagasan ini tidak hanya mencerminkan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan, tetapi juga menunjukkan kesadaran bahwa krisis ekologis tidak dapat lagi ditangani secara sektoral dan administratif semata.
M. Anwarul Fitro selaku Ketua PW Pemuda Muslimin Indonesia Provinsi Sumatera Selatan menyampaikan bahwa, Bukit Barisan merupakan satu kesatuan ekologi yang tidak mengenal batas Provinsi. Kerusakan hutan di wilayah hulu akan selalu berdampak langsung pada wilayah hilir, termasuk Sumatera Selatan yang selama ini juga menghadapi ancaman banjir, degradasi daerah aliran sungai, serta krisis lingkungan akibat alih fungsi lahan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis bioregion adalah pendekatan yang tepat dan berorientasi jangka panjang.
Selama ini, kebijakan negara dalam merespons bencana ekologis cenderung bersifat reaktif—bergerak setelah bencana terjadi, bukan mencegah sejak awal. Akibatnya, siklus kerusakan lingkungan terus berulang, sementara masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Pembentukan satuan khusus lintas sektor dan lintas daerah akan menjadi instrumen strategis untuk memperkuat koordinasi, pengawasan, serta penegakan hukum lingkungan secara lebih terintegrasi.
Pemuda Muslimin Indonesia Sumatera Selatan mendorong pemerintah pusat untuk menanggapi desakan ini secara serius dan tidak memandangnya sebagai penambahan beban birokrasi. Justru sebaliknya, satuan khusus ini dapat menjadi solusi korektif atas lemahnya tata kelola lingkungan dan minimnya sinergi antarwilayah di sepanjang jalur Bukit Barisan.
Kami juga sepakat bahwa pelibatan masyarakat adat, akademisi, organisasi kepemudaan, serta masyarakat sipil merupakan kunci agar kebijakan mitigasi ekologis tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi benar-benar berpijak pada realitas sosial dan ekologis di lapangan.
Menjaga Bukit Barisan bukan hanya soal konservasi alam, melainkan soal menjaga keberlanjutan hidup, keadilan ekologis, dan masa depan generasi Sumatera. Negara harus hadir lebih awal, lebih tegas, dan lebih terintegrasi. Jika tidak, maka krisis ekologis akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.





